• SMA FUTUHIYYAH MRANGGEN
  • Mewujudkan generasi muslim yang berakhlakul karimah, berprestasi, berbudaya ramah lingkungan, menjadi pelopor dalam pengembangan IPTEK serta berwawasan kebangsaan

KELUH CUCU POLAHI

KELUH CUCU POLAHI

Angin malam yang semakin menggerogoti tulang setiap insan yang merasakan kedinginannya, larutnya malam mulai menciptakan hening yang bersahabat dengan semesta, sesekali aku mendengar suara jangkrik yang mengganggu ketenangan malam ini. Di kediaman ku, pikiranku mulai berlari menuju masa silam 3 tahun lalu.

Jakarta, 13 April 2018

            Semburat merah itu mulai menghilang di langit nan indah, burung burung kecil mulai terbang ke sana kemari, mencari makan mungkin, ataupun mencuri perhatianku agar aku mengamati kepakkan sayapnya yang indah saat terbang di angkasa.

“Ivoni, turun, Nak!!” teriak ibuku memberikan isyarat agar aku segera turun ke lantai bawah.

“Iya, Bu, sebentar!” jawabku. Aku  mencoba meraih tas yang berada di atas cermin kaca. Ku coba raih dengan tangan kiriku karena Tuhan memberikan tangan kanan yang tidak sempurna. Aku dilahirkan dalam keadaan IDIOT. Jika disuruh memilih, siapa manusia yang ingin dilahirkan dalam keadaan seperti ini, kepala yang tidak bisa digerakkan ke kanan, tangan kananku yang  selalu menekuk tak dapat diluruskan, oh Tuhan…!, Aku melangkah menuju meja makan, kudapati ayah dan ibu sudah duduk di sana, menyiapkan sarapan favoritku. Nasi goreng dengan ikan teri di atasnya, tak lupa telur mata sapi yang digoreng setengah matang.

“Pagi, Bu!” kataku.                                                                                    

“Pagi, Nak, sarapan dulu!” ujar ibuku, memberikan senyuman untuk pagi hari ini, kusantap sarapan pagi ini dengan penuh antusias, selepas itu ku beranjak pergi ke sekolah, menimba ilmu untuk mencari bekal tuk masa depan. Masa depan yang entah bisa membawaku kepada  kata sukses atau tidak. Sebenarnya aku benci dengan lingkungan sekolahku, dimana mereka selalu menghujatku, menghinaku, dan bahkan membullyku. Namun, semesta begitu baik. Memberikan dua laki laki yang sangat berperan dalam goresan tinta kehidupanku.

“Hai, Von!” sapa Azam, disusul Alfan di belakangnya. Laki laki yang menerima keadaanku apapun itu, mereka sahabat baikku yang dikirim Tuhan sebagai malaikat tak bersayap. Kami beranjak menuju kelas, sebuah ruang yang akan menjadi saksi bisu perjalanan belajar mengajar kami selama satu tahun ke depan. Azam izin tidak mengikuti pelajaran hari ini.

”Bu, Saya izin ada rapat OSIS di aula,katanya pada guru fisika yang sedang mengajar di kelasku. Azam adalah ketua Osis di sekolahku, banyak sekali wanita - wanita yang ingin mendekatinya ataupun sekadar ingin berkomunikasi dengannya. Namun, sikapnya justru begitu dingin pada mereka yang mencoba berinteraksi dengannya.

“Von, nanti nonton, Yuk!” pinta Alfan, sahabatku yang satu ini, sangat sangat populer di sekolah kami, karena ketampanannya dan juga penampilannya yang selalu terlihat keren.

“Iya, nanti, katanya ada film bagus ya,” kataku. Memang aku dan Alfan jika bicara tentang film, kami sehobi. Aku beranjak dari tempat dudukku melangkah mendekati Bu Rina guru Fisika di kelasku.

“Bu, Saya izin mau ke toilet!” kataku, dijawab dengan anggukan kepala oleh Bu Rina. Aku segera beranjak menuju toilet, melepaskan rasa ingin buang air kecilku. Tiba tiba aku mendengar suara pintu depan toilet yang didobrak begitu keras, aku sempat merinding karena mendengar suara gebarakan pintu yag menggema begitu keras di toilet. Aku mendengar langkah kaki yang semakin mendekat dan terdengar begitu jelas. Tiba tiba saja pintu toilet yang kupakai diketuk dengan keras, dan itu membuatku begitu ketakutan.

”Keluar, gak!!” teriak seorang perempuan yang suara nya tidak asing di telingaku. Dalam ketakutan yang menggerogoti hatiku, aku terdiam. Tak berani bersuara dan tak berani keluar dari tempat persembunyianku, di dalam toilet.

“Denger, gak sih!” bentaknya sekali lagi dan bentakkan itu mampu membuatku merinding. Kuberanikan diri membuka pintu toilet dan kudapati Retno dengan teman - temanya menatapku penuh amarah.

“Ada apa?” tanyaku.                                                                                          

”Gak usah belagak gak tau lah!” jawabnya.  Aku tak tahu kemana arah percakapan mereka.

”Aku gak suka kamu deket deket sama Azam!” kata Retno, memaparkan alasannya memperlakukan ku seperti ini. Retno mendekatiku, menjabak rambutku hingga kepalaku terpelintir kebelakang. Oh, Tuhan! Sakit sekali rasanya, kepalaku saja sudah sangat sakit saat kucoba gerakkan dan saat ini dengan kejam mereka memutar kepalaku.

“Ret, sakit Ret!” kataku dengan menahan sakit yang begitu menusuk tulang leherku. Mataku hampir mengeluarkan butiran bening air mata.

“Ini pelajaran buat kamu karena sudah berani deket - deket sama Azam!” bentaknya sambil menarik rambutku dengan kasar untuk kesekian kalinya. Saat itu duniaku gelap, rasa sakit itu hilang dan aku pingsan.

Pukul 19.00 WIB

            Ruangan serba putih, dengan alat alat di dalamnya yang tak kuketahui kegunaannya untuk apa, dan bau obat yang sangat menyengat di hidung membuatku membuka kedua mataku yang berat karena terlama tertidur, kesadaranku belum begitu pulih seutuhnya, kudapati ayah, ibu, Azam, dan Imron berdiri mengelilingiku. Melihatku dengan tatapan iba, setelah aku rasa kesadaranku sudah kembali pulih. Aku baru menyadari apa yang terjadi padaku, kejadiaan di toilet tadi pagi membuatku harus terbaring di rumah sakit.

“Kamu gak apa – apa, Von?” tanya Azam. Aku terdiam. Tak tahu harus berbuat apa karena aku rasa apa yang dibicarakan Retno memang benar, aku tak pantas menjadi sahabatnya.

“Von, engga apa - apa, kan?” tanya Imron. Aku mengangguk menandakan aku tidak apa apa.

“Aku mau istirahat! Aku mau sendiri.” pintaku. Ayah dan yang lainnya mengerti maksudku kecuali Azam, dia masih berdiri di samping dan menatapku penuh curiga.

“Aku mau istirahat kamu denger gak sih!” kataku setengah membentak.

“Kamu kenapa?” tanyanya penuh curiga.

”Aku mau tidur, kamu keluar!” bentakku, untuk kali ini aku benar - benar membentaknya. Terlihat dari kedua mata Azam, dia terlihat begitu terkejut mendengar bentakanku, akhirnya dia mengalah dan beranjak pergi meninggalkan ku seorang diri, seorang diri dalam sepi yang bersembunyi di dalam balutan kegelapan malam.

            Tiga hari kulewati, begitu membosankan hidup di dalam ruangan serba putih ini, belum lagi bau obat yang begitu membuatku mual. Dokter yang merawatku tadi bilang, bahwa sore ini aku sudah diperbolehkan keluar dari ruangan ini, bersyukur aku pada Tuhan dan semesta. Pintu kamarku terbuka saat aku ingin turun dari ranjangku, dua laki laki yang berarti dalam ukiran kehidupanku datang dan berjalan menghampiriku. Aku tak tahu harus berlaku seperti apa dengan Azam.

“Eh, Von, cieeeeee, udah boleh pulang. Besok sekolah libur  dua minggu lho, Azam mau ngajak kita jalan - jalan ke Demak, mau ziarah katanya, gratis!” ujar Alfan mengawali pembicaraan kami.

“Tumben ngajak bareng bareng!” tanyaku.

“Aku udah tau semua nya, Von, maaf banget ya, gara - gara aku kamu jadi begini, jalan jalan ini anggap saja buat nebus rasa bersalahku.” penjelasan Azam mampu membuatku merasa lega karena semesta tak lagi mengharuskanku menjauhi sahabatku ini.

            Di balkon kamar tidurku, aku menatap mentari yang mulai keluar dari tempat peristirahatannya. Mentari yang mulai beradaptasi dengan semesta. Pohon yang mulai terlihat sejuk kembali karena sinar matahari yang menyinarinya.

Pukul 05.30

Hari ini aku, Azam, dan Alfan akan berangkat menuju Demak, salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah. Kata Azam kota ini dijuluki dengan Demak Kota Wali.

“Non, Ivoni, ditunggu Den Azam di depan” kata Bi Asih membuyarkan lamunanku. Aku segera mengambil tas ranselku, yang berisi perlengkapan yang ku butuhkan disana.

“Bu, Ivoni berangkat ya,” kataku sembari mencium tangan ibuku, ibu yang paling kusayang. Ibu menatapku dengan tatapan pilu. Entah, rasanya ada yang sesuatu yang berbeda dari tatapan ibu.

“Kamu hati - hati ya, Nak! Jaga diri baik - baik, Ibu sayang Ivoni.” kata ibu kemudian merangkulku dalam pelukan hangat yang selalu kurindukan. Air mata ibu mengalir begitu deras.

“Bu, jangan nangis, Ivoni bisa jaga diri, kok,” kataku dijawab anggukan kepala oleh Ibu.  Aku menghampiri Ayah dan kucium tangannya. Berat sekali rasanya meninggalkan rumah.

“Hai, Von, Yuk berangkat langsung!” kata Azam setelah mereka berdua berpamitan oleh kedua orang tuaku. Kami langsung menuju Stasiun Senen. Azam mengajak kami untuk naik transportasi kereta.

 “Naik kereta aja, gak macet! pemandangannya indah lagi!” katanya. Aku dan Alfan pun menyetujui niatnya.

            Pukul 07.00 WIB kereta yang kami naiki sudah meluncur menuju Semarang, kata Azam kami turun di Stasiun Tawang Semarang, lalu nanti ada mobil yang mengantar kami ke Demak. Indonesia memang begitu kaya. Kaya akan suku, budaya dan bahkan kaya akan pemandangannya. Indah sekali pemandangan dari dalam kereta.

“Zam, masih lama, gak sih?” tanyaku. Aku tak nyaman berada diantara banyaknya penumpang kereta.

“Bentar lagi kok, ini udah jam setengah satu mungkin nanti jam satu sampai,” jawab Azam. Tak lama kami berbincang, kereta yang kami naiki berhenti di Stasiun Tawang Semarang. Kami segera beranjak dari tempat duduk kami dan turun dari transportasi ini. Perjalanan kami lanjutkan menggunakan mobil menuju Demak. Kira kira satu jam perjalanan akan sampai di Demak, Azam langsung membawa kami ke Masjid Agung Demak. Salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia, menurut pengetahuan Azam, masjid ini didirikan oleh Raden Patah yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak bersama Wali Songo. Wali Songo adalah wali yang berjumlah sembilan yang menyebarkan agama Islam di nusantara. Saat itu Azam dan Alfan ziarah ke makam Raden Patah yang ada dibelakang masjid ini, sedangkan aku memang tak tahu apa agamaku, jadi aku lebih memilih menunggu mereka di depan masjid. Dari kecil hingga sekarang ayah ataupun ibu tak pernah mengajariku tentang agama dan  Tuhan. Setiap orang yang melihat ataupun melewatiku, selalu memberikan tatapan tidak suka ataupun iba. Aku tak tahu, yang terpenting aku tidak nyaman dengan tatapan mereka. Seakan akan mereka menatapku dengan tatapan menjijikan. Ponselku berdering membuyarkan pikiranku tentang mereka.

“Hai, Bi Asih, ada apa?” tanyaku pada seseorang yang menelponku tadi. Suara isakan tangis menggema jelas di telingaku, Bi Asih menangis.

“Ada apa, Bi?” tanyaku dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Non, Non Ivoni pulang sekarang, ayah dan ibu kecelakaan, Non!” Dalam satu kali kedipan mata duniaku hancur, tak lagi dapat mengatakan apa yang aku rasakan. Aku menangis, merasakan kejamnya kalimat itu menusuk telingaku. Ponsel ku terjatuh.

“Kenapa, Von?” tanya Azam dan Alfan berjalan tergesa - gesa melihat aku menangis begitu deras.

“Ki…ki…ta… pulang sekarang!” pintaku dengan ucapan yang hampir tak bersuara karena isakan  tangis air mata.

”Kenapa, Von? cerita!” tanya Azam penuh dengan kekhawatiran.

”Orang tuaku kecelakaan!!!” bentakku penuh dengan amarah dan kebingungan. Saat itu juga Azam segera membawaku dan juga Alfan ke Bandara Achmad Yani Semarang untuk mempersingkat waktu.

Pukul 18.00 WIB

            Ragaku telah sampai di Jakarta dan aku begitu terkejut saat dimana tangan kananku mampu kugerakkan seperti manusia normal pada umumnya. Alfan dan Imron pun sangat tak menyangka dengan kejadian ini. Namun, untuk sekarang bukan perihal tanganku yang ku pentingkan. Namun, perihal keadaan kedua orang tuaku, aku dan kedua sahabatku segera menuju Rumah Sakit Medika, tempat ayah dan ibu dilarikan setelah kecelakaan itu. Aku belum tau secara jelas kronologi kecelakaan itu. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, aku ingin memanjatkan doa, tapi aku tak tahu kemana doa ini kumohonkan, Tuhan mana yang akan ku sembah. Sesampainya di rumah sakit aku segera mencari Bi Asih. Dengan tatapan kosong Bi Asih menatapku sembari berkata, “Sabar ya, Non, Ibu sudah tiada,” kalimat itu mampu menghancurkan benteng pertahananku.

 “Ibu gak ada jam berapa, Bi?” tanyaku.

“Jam 06.00 tadi, Non,” ucap Bi Asih persis dimana tanganku sembuh dari penyakit yang selama ini menemani putaran roda kehidupanku.

            Setelah pemakaman ibu selesai. Aku segera menuju ruangan yang bertulisan RUANG ICU, ruangan dimana kudapati laki - laki yang sangat kusayangi terbaring tak berdaya dengan banyak selang yang menempel dibadannya, ayah. Dengan cekatan tangan ayah menunjukku mengisyaratkan aku untuk mendekatinya, kurangkul raga ayah dengan tangisan yang sangat menyayat hatiku.

“Nak, dengarkan ayah!” kata ayah menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.

“Ada sesuatu yang mau Ayah ceritakan sama Kamu, sesuatu yang Ayah dan ibu  sembunyikan dari Kamu,” ayah terdiam, menyusun kata yang akan dijadikan sebuah cerita. Sebuah cerita yang entah bagaimana kronologinya. Semesta mengapa membiarkan ayah menutupinya dariku. Semesta mengapa diam saja, tak memberitahuku.

“Dulu Ayah dan Ibu adalah suku Polahi, salah satu suku di Gorontalo, suku kami masih mentradisikan nikah sedarah, dimana anak menikahi ayahnya ataupun yang lainnya, sedangkan dalam ilmu medis pernikahan itu mampu melahirkan keturunan yang cacat. Sedangkan ayah dan ibu juga melakukan itu, ibumu dulu adalah anak Ayah, seperti kamu,” ayah terdiam, menangis penuh penyesalan. Aku pun tak menyangka dengan apa yang ayah bicarakan.

“Ayah punya istri di Gorontalo bernama Sukowati, Ayah meninggalkannya dan merantau ke Jakarta bersama ibumu, Ayah harap kamu bisa menemuinya dan meminta maaf padanya!” kalimat ayah bagaikan ilusi yang bermain dalam pikiranku. Tak mampu ku percayai. Namun, memang benar - benar terjadi. Tiba - tiba a yah tak sadarkan diri, aku memangil dokter. “Tuhan, siapapun Tuhanku bantu aku!”

 Dokter bilang ayahku koma.

“Oh, Tuhan. Cobaan ini datang seperti hujan yang mengguyur tubuhku.”

“Kamu harus ke Gorontalo!” suara itu tiba - tiba muncul. Entah dari mana, ku tengok kanan kiriku tak ada orang, hanya lorong rumah sakit yang terlihat begitu kesepian, terlihat bangku bangku yang berjejeran disamping lorong rumah sakit yang menatapku parau.

“Aku Abah Sukma, roh yang hidup di dalam tubuh siapapun yang mempunyai keturunan Polahi, Kamu tidak akan bisa melihatku namun kamu bisa merasakan kehadiranku. Pergilah! ini demi Ayahmu,” kata itu mampu menggerakkan niatku untuk segera pergi menuju Gotontalo.  Aku ditemani oleh dua sahabatku yang selalu menyemangatiku, memberikan beribu motivasi agar aku kuat menghadapi cobaan yang menghantam benteng kehidupanku.Perjalanan menuju Gorontalo ditempuh selama 3 jam menggunakan pesawat.

“Semua baik baik saja, Von,” kata Azam membangkitkan semangatku.

Pesawat mendarat dengan sempurna. Aku, Azam dan Alfan langsung beragkat dengan mobil yang kami sewa menuju tempat dimana suku Polahi berada. Kami harus menempuh jalan yang sangat terjal dan sangat susah dilewati oleh kendaraan. Mobil yang kami naiki berhenti di suatu perkampungan dengan banyak sekali gubug yang terbuat dari anyaman bambu. Aku melangkah memasuki perkampungan, tatapan mata masyarakat di sana sedikit aneh pada kami. Seorang laki - laki tua mendekati kami.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

“Saya mau mencari Sukowati, Pak!” kataku. Laki - laki itu mengkerutkan dahinya dan berbisik pada seorang perempuan yang melintasi kami. Tak lama datang perempuan yang jika kuperkirakan umurnya setara dengan ayahku, kuperhatikan wajahnya sangatlah mirip dengan ibu, tatapannya mampu menghangatkan jiwaku. Aku berlari dan merangkulnya menangis dibahu yang sangat nyaman itu. Tak ada penolakan darinya.  Justru dia membalas pelukanku.

“Bu, maafkan ayah dan ibu. Ivoni sudah tau semuanya, ayah sudah jahat meninggalkan Ibu,” kataku. Air mata itu terus mengalir dipipiku, seakan akan mengisyaratkan betapa hancurnya hatiku.

“Kamu anak Abraham dan Sulisyowati?” tanyanya sedikit terkejut. Aku mengangguk.

“Dimana ayah dan ibumu?” tanyanya. Kuceritakan semua yang terjadi pada ayah dan ibu, kemudian kusampaikan perminta maaf ayah dan ibu.

“Sudah - sudah jangan menangis, aku ini Ibumu. Jangan enggan - enggan untuk menganggapku Ibumu. Kembalilah ke Jakarta temui ayahmu dan sampaikan salam dariku!” kata Sukowati. Sungguh baik sekali hatinya, kuat sekali jiwanya. Terlihat tak ada sama sekali rasa benci ataupun dendam dalam hatinya. Aku pamit padanya, kurangkul dan kucium keningnya. Semua masyarakat berkumpul di sana seperti menyemangatiku.

“Jangan takut untuk berkunjung, ini keluargamu!” jawabnya. Dibalas senyuman dari para masyarakat suku Polahi. Aku mengangguk dan melangkah meninggakan suku asalku.

            Awan putih itu sangat indah. Ku lihat dari balik jendela bundar yang ada di pesawat, kejadian itu masih tak dapat ku percaya. Namun, memang benar - benar terjadi. Andai aku bisa terbang seperi burung burung yang sedang bercengkrama ke sana kemari seakan dunia milik mereka. Terlihat tak ada beban yang mereka pikul.

“Von,”Alfan memanggilku kemudian  aku menolehkan kepalaku. Betapa terkejutnya aku, kepalaku dapat ku gerakkan seperti manusia normal pada umumnya.

“Von, kepalamu sudah sembuh,” kata Alfan begitu bahagia melihatku. Aku sudah terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Namun, hati ini teriris begitu sakit. Kejadian dimana tanganku kembali seperti semula bertepatan dengan meninggalnya ibu. Apakah kejadian ini akan terulang kembali kepada Ayah? “Oh, Tuhan!”

Jakarta, 17 April 2018 Pukul 00.00 WIB

            Aku sampai di Jakarta, hari ini adalah hari kelahiranku. Hari dimana aku mulai menggoreskan tetes demi tetes tinta kehidupan. Hari dimana aku seharusnya mendapatkan banyak kado dan banyak ucapan Selamat Ulang Tahun Ivoni. Mobil yang kunaiki sudah terparkir di depan Rumah Sakit Medika. Aku segera berlari menuju ruangan ayah. Ku buka pintu yang menjadi saksi bisu penderitaan ayah selama di ruangan serba putih ini. Aku melihat orang yang kusayang sudah tertutup kain putih.

“Ayah, bangun!” teriakku merangkul ayahku. Kulihat Bi Asih, Azam dan Alfan menatapku dengan iba.

“Ayah, hari ini Ivoni ulang tahun Ayah. Bi, hari ini Ivoni ulang tahun, kenapa Ayah dan Ibu justru ninggalin Ivoni?” isak tangisku meluapkan semua kesedihan. Bi Asih sempat kaget melihatku yang sudah sembuh dan terlihat seperti manusia normal pada umumnya.

“Ayah, Ibu Sukowati baik lho, Yah, Dia gak marah sama Ayah!” kataku berbicara layaknya ayah masih hidup.

            Malam itu akan menjadi malam yang bersejarah dalam hidupku. Dimana aku mendapatkan kesedihan juga kesenangan secara bersamaaan. Aku senang sudah menjadi manusia normal pada umunya. Namun, hati ini begitu hancur. Harus kehilangan dua manusia yang sangat kusayangi. ayah dan ibu.

Abah Sukma bilang padaku “Penyakitmu ini, diberikan oleh roh dari suku Polahi karena kesalahan orang tuamu, dan cara penyembuhannya adalah kamu harus kehilangan mereka!” Dan dari situ aku paham. Bahwa, aku ini anak yang spesial, dilahirkan dari suku yang sangat luar biasa baiknya. Aku sering main kesana, mengunjungi Ibu Sukowati dan keluargaku yang lain, semenjak kematian ayah dan ibu, aku hidup mandiri dengan Bi Asih yang sangat setia menemaniku, dan semenjak itu aku masuk ke dalam Agama Islam. Agama yang sudah kupilih untuk mengkokohkan keimananku. Aku percaya, Tuhan tidak akan menguji hambanya melewati batas kemampuan hambanya. Terima kasih Tuhan, sudah memberikan corak yang begitu unik diukiran kehidupanku.

@putrinuraini989 

Putri Nur Ngaini

 

Insan ini diberi nama Putri Nur Ngaini, keluarganya akrab memanggilnya Putri. Namun, teman temannya akrab memanggilnya Ngaini. Dilahirkan di dunia  pada tanggal 17 April 2003 di Kota Grobogan.Tinggal di Desa Karanglangu, Kedungjati, Grobogan. Suka menulis sejak kelas 5 SD dan novel pertama kali yang menjadi motivasinya menulis sampai saat ini adalah novel 5 cm. Dia merasa dengan menulis, beban yang dipikulnya dapat berkurang dan berkurang, dirinya suka menulis diWattpadnya  @putrinuraini989 dengan nama Putri Nur Aini. Saat TK dirinya diajak merantau kedua orang tuanya dan  bersekolah di TK Al-Husna Bekasi, seiring berjalannya waktu dia mulai bersekolah di SDN BINTARA JAYA VII Bekasi. Enam tahun berjalan, ayahnya memutuskan untuk mempulangkannya ke kampung halaman dan memasukkannya ke Pondok Pesantren karena menurut ayahnya ilmu agama sangat penting untuk bekal kehidupannya. Dia bersekolah di Mts YASUA PILANG WETAN DEMAK dan mengabdikan dirinya di PONDOK PESANTREN BUSTANUL QUR’AN. Waktu berjalan begitu cepat, kelulusan tiba. Sudah waktunya dia memilih sendiri tempat mana yang akan menjadi saksi bisu hidupnya, menetap atau kembali berkelana. Hati kecilnya pun memutuskan untuk bersekolah di SMA FUTUHIYYAH MRANGGEN DEMAK dan mengabdikan dirinya di PONDOK PESANTREN AL MUBAROK. Dirinya aktif di Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Pernah memenangkan perlombaan Pidato Bahasa Indonesia dan Membaca Puisi. Dirinya suka menulis, suka sastra, dan suka berdakwah. Putri dapat dihubungi melalu akun Facebook @Putri Nur Aini dan Instragam @putrinuraini989

Komentar

Sungguh bagus sekali ngaini aku bangga jadi teman kamuuu kamu sangat pintar dan cerdah udah aku baca semua????????????

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Informasi Masuk Siswa Baru

Informasi masuk siswa baru 2020/2021   Siswa Baru SMA Futuhiyyah Mranggen masuk pada Senin tanggal 20 Juli 2020 Menggunakan Seragam SMP/MTs (sekolah sebelumnya), untuk pengenalan,,

11/07/2020 08:38 WIB - SMA FUTUHIYYAH
UJIAN PAT DARING 2020 SMA FUTUHIYYAH

Assalamu'alaikum Wr. Wb. SMA Futuhiyyah akan mengadakan PAT Ujian Daring 2020, untuk itu seluruh siswa kelas X dan XI wajib mengikuti kegiatan tersebut ditengah pademi seperti saat ini,

04/06/2020 10:43 WIB - SMA FUTUHIYYAH
Pengumuman kelulusan 2020 SMA Futuhiyyah

Pengumuman kelulusan 2020 IPA 1. XII MIPA 1 klik disini 2. XII MIPA 2 klik disini 3. XII MIPA 3 klik disini 4. XII MIPA 4 klik di sini   Pengumuman kelulusan 20

01/05/2020 04:39 WIB - SMA FUTUHIYYAH
PPDB ONLINE

Contact Person : 08157651298 (Pak. Subhan)  Semua Pertanyaan mengenai PPDB bisa ditanyakan ke Pak Subhan   Cara pendaftaran Masuk pada web www.smafutuhiyyah.sch.id pili

24/04/2020 11:29 WIB - SMA FUTUHIYYAH
PPDB 2020 ( Penerimaan Siswa Baru Online )

Contact Person : 08157651298 (Pak. Subhan)  Semua Pertanyaan mengenai PPDB bisa ditanyakan ke Pak Subhan   Cara pendaftaran Masuk pada web www.smafutuhiyyah.sch.id pili

15/04/2020 16:33 WIB - SMA FUTUHIYYAH
Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Siswa siswi SMA Futuhiyyah mengikuti dengan hikmad dan tratur,,,,   Tanggal 12 Rabi’ul Awal telah menjadi salah satu hari istimewa bagi sebag

28/11/2019 16:48 WIB - SMA FUTUHIYYAH
Buku Bid'ah Membawa Berkah untuk Kepala SKK Migas

DEMAK, suaramerdeka.com - Budaya memberi hadiah buku atau kitab kepada tamu yang hadir di rumahnya, sudah dilakukan KHM Hanif Muslih Lc sejak lama. Tradisi seperti itu pula dilakuk

28/11/2019 16:34 WIB - SMA FUTUHIYYAH
Dosen Undip Beri Motivasi Siswa Kelas XII SMA Futuhiyyah Mranggen Demk Supaya Lanjut Kuliah

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Alaqsha Gilang Imantara TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Forum Komunikasi Mahasiswa Alumni Futuhiyyah (FOKMAF) Semarang menggelar Sosialisasi Kampus dan Se

28/11/2019 16:12 WIB - SMA FUTUHIYYAH
In House Training (IHT)

SMA Futuhiyyah Mranggen mengadakan kegiatan In House Training (IHT) Implementasi Kurikulum 2013 bagi Guru SMA Futuhiyyah yang dilaksanakan pada tanggal 02-03 Juli 2019 yang diikuti

14/09/2019 08:57 WIB - SMA FUTUHIYYAH
TRY OUT

Matangkan persiapan UN, SBMPTN, UAS dan ujian mandiri (SMA Futuhiyyah Mranggen) k dengan ruanguji yang di sediakan. Ada banyak soal yang siap dikerjakan oleh siswa untuk

14/09/2019 08:57 WIB - SMA FUTUHIYYAH
Dewan Guru SMA Futuhiyyah

Hadirmu Bila kehadiran embun menyejukanSuasana pagiTentu hadirmu menyejukan suasana hatiBila sang mentari hadir menyinari bumiTentu kaulah yang selalu hadirMenyinari hati ini Kau bagaik

14/09/2019 08:57 WIB - SMA FUTUHIYYAH
Tentang SMA Futuhiyyah

SMA FUTUHIYYAH adalah lembaga yang didukung oleh pondok pesantren yang memberikan sentuhan budi pekerti, nilai-nilai agama dan penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Kurikulum&

14/09/2019 08:57 WIB - SMA FUTUHIYYAH